Malang 4 You

Just for Arek Arema Malang

SBY Cerdik dan Tidak Vulgar ..

Jakarta, RMOL. Di satu sisi, sikap Presiden SBY atas rekomendasi Tim 8 dianggap mengambang oleh banyak pihak. Di sisi lain, itu pidato panjang lebar tadi malam menunjukkan kecerdikan SBY.

Mantan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Soehandoyo, pada Rakyat Merdeka Online menganggap positif kemajuan SBY dalam menyikapi rekomendasi Adnan Buyung dan kawan-kawan itu. Terutama di bagian penghentian proses hukum Chandra Hamzah dan Bibit Samad.

“SBY cerdik, dengan menyatakan bahwa masalah akan diselesaikan di luar pengadilan, sebetulnya harus dimaknai presiden tidak mau masuk ranah hukum, tidak mungkin SBY menyampaikan vulgar,” kata politisi Hanura itu saat dihubungi beberapa saat lalu (Selasa, 24/11).

Menurutnya, bila SBY mengeluarkan kalimat instruksi pada Kapolri dan Jaksa Agung untuk penghentian penyidikan atau penuntutan, akan potensial menjadi bumerang. Seharusnya, Kapolri dan Jaksa Agung cerdas untuk memahami penjelasan presiden sesuai ketentuan perundangan. Untuk mengimplemetasikannya pun tidak dibutuhkan waktu lama.

Dien Syamsuddin: SBY Tidak Jelas …

JAKARTA — Keputusan SBY terkait kasus Bibit-Chandra dan skandal Bank Century yang diumumkan Senin malam 23 November, masih menyisakan masalah.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsuddin, kepada wartawan, usai membuka perayaan satu abad Muhammadiyah, di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62, Jakarta, Selasa malam 24 November.

“SBY tidak jelas. Seharusnya dia harus memilih satu dari dua. Lanjutkan atau hentikan. Tidak win-win solution, lalu diselesaikan di luar pengadilan. Ini memang terkesan arif bijaksana, tetapi pendekatan seperti itu masih menyisakan masalah dan pro kontra lanjutan. Seharusnya lebih tegas. Apalagi sudah memerlukan waktu panjang untuk memikirkannya, mempertimbangkannya,” kata Dien Syamsuddin. (jpnn)

Anggodo Tak Ditangkap, Pencopotan Susno Duadji Sekedar Basa-basi

Langkah Kapolri untuk mencopot Susno Duadi sebagai Kabareskrim Mabes Polri tak cukup untuk memperbaiki citranya.

“Saya kira harus ada pembuktian dalam proses waktu, bagi siapa saja bukan dengan hal-hal yang bersifat simbolik, reposisi, basa-basi, apalagi pura-pura, atur sana atur sini, pindah sana pindah sini. Sebuah pendekatan yang basa-basi artifisial itu malah menambah buruknya citra. Orang baru tapi perilakunya sama, ya sama saja,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsuddin, kepada wartawan, usai membuka perayaan satu abad Muhammadiyah, di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62, Jakarta, Selasa malam (24/11).

Menurut Dien, pekerjaan Polri di depan mata adalah menangkap Anggodo yang sudah jelas mencatut nama Presiden SBY.

“Saya baca running teks saat itu, SBY mengancam akan menggugat Anggodo. Jangan ngancam-ngancam dong, langsung aja tangkap. Nah ketidakadilan, mahasiswa demonstrasi bakar lambang negara, itu sudah ditangkap langsung, Anggodo dibiarkan saja, luar biasa itu melakukan penghinaan terhadap Presiden.  Jadi kalau betul-betul membasmi mafia peradilan, salah satu aja buktinya, tangkap Anggodo. Kalau tidak ditangkap, itu berarti basa-basi,” kata Dien.

Pencopotan Tak Jamin Reformasi Bidang Hukum

Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsuddin, langkah pencopotan tersebut sudah tepat karena bisa menuai simpati publik. Namun, kata Dien, reposisi di lembaga penegakkan hukum tak menjami reformasi di bidang hukum.

“Saya tidak bicara orang per orang (reposisi Susno Duadji). Tapi menurut saya, langkah itu sudah tepat karena sesuai dengan rekomendasi Tim 8 untuk mereposisi di tiga institusi ini. gojang-ganjing KPK dan Polri kemarin itu kan terkait dengan orag per orang, aparat pejabat terlibat. Oleh karena itu, kalau itu dilakukan adalah tepat dan menuai simpatik untuk Presiden SBY. Walaupun reposisi orang per orang tidak menjamin reformasi di bidang hukum. Karena menurut saya, reformasi penegakkan hukum diperlukan big bang (ledakan dahsyat) yang betul-betul memiliki daya kejut dan daya getar sehingga berlangsung secara sistemik, termasuk pengadilan,” kata Dien Syamsuddin, usai membuka perayaan satu abad Muhammadiyah, di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62, Jakarta, Selasa malam (24/11).

Menurut Dien, keboborokan pengadilan yang bisa dibeli akan menuai amarah dari masyarakat. Karena itu, katanya, reposisi harus menjamin reformasi di bidang hukum itu sendiri.

Iklan

25 November 2009 Posted by | Nasional, News | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Super Anggodo (versi YouTube)

>> lihat video di YouTube >> lihat Republik Mimpi Buruk

Super Anggodo

INILAH>COM Jakarta – Memanasnya kasus Anggodo Widjojo membuat masyarakat meresponnya dengan makin kreatif. Salah satunya, dengan video pelesetan Anggodo di YouTube.

Video berdurasi satu menit lima detik itu diposting ke situs video YouTube, tertanggal 5 Oktober oleh seorang user bernama ‘underexposedbastard’. Isinya, penggalan-penggalan wawancara Anggodo dengan sebuah stasiun televisi yang baru-baru ini disiarkan.

Beberapa pertanyaan lucu disisipkan pada klip tersebut, yang dijawab oleh penggalan wawancara Anggodo. Misalnya pertanyaan ‘Anda tahu KPK itu apa?’. Jawaban adik Anggoro Widjojo itu, “Saya sama sekali nggak tahu  KPK apa.”

Selanjutnya, pertanyaan yang berupa tulisan itu masih agak serius. Seperti ‘Apakah hubungan Anda dengan Pak Susno sekedar bisnis atau…?’. Namun lama kelamaan, pertanyaan mulai tak ada hubungannya dengan kasus Anggodo dan KPK.

Seperti, ‘Anda tahu album Britney Spears yang terbaru?’, ‘Anda tahu dimana Krisdayanti bertemu selingkuhannya?’, lalu ‘Usia Anda berapa?’ yang dijawab Anggodo dengan, “Dua puluhan.” Lanjutan jawaban itu, “Katanya, bukan saya,” kata Anggodo.

Bahkan, ada pertanyaan ‘Anda tahu bedanya Mulan Jameela dan Mulan Kwok?’. Yang membuat plesetan ini kocak, adalah pertanyaan lucu yang dijawab dengan serius. Akhir kata, si user menulis, “Setelah ditahan kurang dari sehari, Anggodo Widjojo akhirnya dibebaskan. Terima kasih Pak Buaya,” yang diiringi suara tepukan tangan. [vin]

20 November 2009 Posted by | News, Video | , , , , | 1 Komentar

Terus Berjuang ..

kpk2006

...

 

detik.com

Anggota Komisi IX Andi Rahmat menyambut baik pernyataan wakil presiden Boediono yang bersedia diperiksa terkait skandal bailout Rp 6,7 triliun. Menurut Andi, pernyataan Boediono tersebut cukup memberi ketenangan di tengah menguatnya usulan hak angket Bank Century di DPR.

“Pernyataan Boediono melegakan banyak pihak. Pernyataan dia sudah menenangkan di tengah usulan hak angket ini,” ujar Andi kepada detikcom di Gedung DPR, Jakarta, Senin (16/11/2009).

Sementara bagi partai pendukung koalisi SBY-Boediono, politisi PKS ini menilai pernyataan Boediono justru merupakan titik terang tidak ada hubungan bailout sebesar Rp 6,7 triliun dengan pengambil kebijakan.

“Dan mudah-mudahan saja ini benar,” imbuh mantan Ketua Umum KAMMI ini.

Nama Boediono disebut-sebut dalam pemberian dana talangan (bailout) kepada Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun. Dalam keterangan kepada pers Jumat pekan lalu di Istana wakil  presiden, Boediono menyampaikan jika dirinya siap diperiksa terkait skandal Bank Century.

16 November 2009 Posted by | News | , , , , | Tinggalkan komentar