Malang 4 You

Just for Arek Arema Malang

BIBIT dan CHANDRA: sampai mana?

Cicak dan Buaya by Iwan Fals

Kejaksaan pada Selasa 1 Desember 2009 menghentikan kasus yang menjerat Bibit dan Chandra.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Marwan Effendy mengaku ada tiga alasan yuridis yang jadi pertimbangan.

Pertama, karena perbuatan kedua tersangka, baik Bibit maupun Chandra dipandang tidak menyadari dampak yang ditimbulkan atas perbuatannya. “Mereka menganggap itu hal yang wajar dalam rangka penjalankan tugas dan kewenangannya, dan hal tersebut juga syudah dilakukan oleh para pendahulunya. Maka dapat diterapkan pasal 50 KUHP,” kata Marwan.

Sementara alasan sosiologis meliputi tiga hal. Pertama, adanya suasana kebatinan yang membuat perkara tersebut tidak layak diajukan ke pengadilan dan lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.

Kedua, untuk menjaga keterpaduan atau harmonisasi lembaga penegak hukum baik kejaksaan, polisi dan KPK di dalam menjalankan tugasnya untuk pemberantasan korupsi sebagai alasan dokrinal yang dijamin dalam hukum pidana.

Ketiga, masyarakat memandang perbuatan yang dilakukan kedua tersangka baik Chandra atau Bibit tidak layak untuk dipertanggungjwabkan kepada keduanya karena perbuatan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya dalam pemberantasan korupsi yang memerlukan terobosan-terobosan hukum.

Institute for Democracy and Peace (SETARA)

Ketua SETARA, Hendardi menyatakan, Kejaksaan tetap menganggap kasus kedua pimpinan KPK telah memenuhi rumusan delik pasal 12e dan pasal 23 UU Pemberantasan Korupsi. “Unsur pidananya terpenuhi tapi dihentikan demi hukum,” katanya.

Menurutnya, langkah ini hanyalah untuk mengesankan bahwa polisi dan jaksa telah bekerja benar sesuai prosedur hukum. “Dua instansi ini tidak mau kehilangan muka dan dimintai pertanggungjawabannya,” katanya. Mereka lanjut Hendardi, enggan mengakui bahwa bukti yang ada tidak cukup.

Hendardi khawatir SKPP akan menutup pintu pengungkapan lebih luas dan gamblang tentang skandal kriminalisasi pimpinan KPK. “SKPP juga telah menjadi bentuk kompromi politik antar-institusi penegak hukum yang menutup rapat pihak-pihak yang terlibat dalam skandal tersebut,” ujarnya.

SKPP dinilai hanya akan merugikan Bibit dan Candra, publik, dan penegakan hukum di Indonesia. “Kesempatan untuk mengungkap seluruh skandal itu akan tertutup,” ujarnya. Dalam situasi yang penuh kontroversi, seharusnya kasus Bibit dan Chandra terlebih dahulu dibawa ke pengadilan, sehingga praktik kriminalisasi itu bisa diuji dan dibuktikan.

“Membawa kasus ini ke pengadilan bukan berarti tidak sepakat dengan fakta-fakta kriminalisasi,” tuturnya. Pengadilan menurutnya, justru dibutuhkan untuk membuktikan logika-logika keliru para aparat hukum dan kehendak politik sejumlah orang untuk mengkriminalkan KPK.

Iklan

2 Desember 2009 Posted by | Nasional, News | , , , , , , | 1 Komentar

Pidato SBY: .. Begini seharusnya ..

Macan Bangun melawan Buaya

Karena itu saya sampaikan pada Kepolisian dan Kejaksaan bahwa sikap dan arahan saya selaku Presiden RI adalah dalam 1×24 jam sudah dinyatakan oleh polisi dan Kejaksaan sesuai koridor hukum dan perundang-undangan yang berlaku, bahwa saudara Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto bebas dari semua tuduhan yang dialamatkan pada mereka, terutama tidak cukup bukti untuk melanjutkan proses hukum tersebut. Dan sesuai dengan koridor hukum serta perundang-undangan, dalam 1x 24 jam sesudah itu, saudara Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto direhabilitisi namanya sehingga dapat kembali bertugas di KPK,” kata Effendi menirukan SBY.

Rakyat Indonesia yang saya cintai. Setelah saya menerima hasil pemeriksaan investigasi BPK atas kasus Bank Century, maka sekarang saya nyatakan, saya meminta kepada PPATK dalam waktu 1×24 jam ke depan menyerahkan semua data transaksi keuangan terkait dengan kasus Bank Century kepada Kepolisian dan Kejaksaan. Mekanisme ini sesuai dengan koridor hukum dan undang-undang,” kata Effendi.

Contoh langsung dari sikap tegas kita untuk melawan mafia hukum serta makelar kasus pada lembaga manapun, karena itu sebagai Presiden RI sesudah menyelesaikan pidato ini saya akan mengajukan laporan polisi terhadap saudara Anggodo yang telah mencatut nama saya dan menyebar fitnah seakan-akan saya mengetahui atau bahkan mem-backup atau mendukung skenario atau perbuatan yang sedang mereka rencanakan. Dengan demikian kepolisian bisa segera menetapkan suadara Anggodo sebagai tersangka.”

Itulah sebagian pidato tandingan Effendi Ghazali terhadap terhadap pidato SBY. Menurut Effendi, SBY luput dari tiga poin penting di atas.

Keputusan SBY terkait kasus Bibit-Chandra dan skandal Bank Century yang diumumkan Senin malam (23/11), memang membuat kecewa para aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak).

Sebagai bentuk kekecewaan terhadap pidato Presiden SBY yang berputar-putar dan tidak tegas, Kompak menggelar diskusi “Membahas Detail Pidato SBY” di Rumah Makan Warung Daun Cikini, Jakarta, sore ini (Selasa, 24/11). Aktivis Kompak, yang juga pakar komunikasi Universitas Indonesia (UI), Effendi Gazali, membuat pidato tandingan. Menurut Effendi, dia merubah 70 persen pidato SBY.

“Isu penting saya maksud adalah kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah dan yang kedua adalah Bank Century,” kata Effendi dalam pidato tandingannya. Sebagaimana diketahui, tadi malam, SBY mendahulukan kasus Century dibanding kasus Bibit dan Chandra.

25 November 2009 Posted by | News | , , , , , | Tinggalkan komentar

Cicak terus lawan Buaya …

Kini bola sudah dilemparkan kepada Presiden SBY. Sebagaimana niatan semula, tim 8 ini memang pilihan Presiden untuk memberikan verifikasi terhadap perjalanan kasus hukum yang melibatkan dua pimpinan KPK. Tetapi kita melihat bahwa kasus ini ternyata melebar kemana-mana.

Tugas tim verifikasi kasus hukum yang melibatkan pimpinan KPK non aktif Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah tuntas sudah, seiring dengan penyerahan rekomendasi dan laporan akhir tugas mereka kepada Presiden Yudhoyono, pemberi mandat tugas tersebut. Setelah 2 minggu bekerja, tim 8 merekomendasikan beberapa hal, diantaranya penghentian perkara Bibit-Chandra, pemberian sanksi kepada pejabat yang terlibat, serta reformasi lembaga penegak hukum seperti Polri, Kejaksaan Agung, KPK dan LPSK. Rekomendasi ini juga berisi usulan agar dibentuk sebuah unit tugas dalam rangka merumuskan arah reformasi hukum.

Rekomendasi tim 8 ini memang banyak ditunggu orang. Rekomendasi ini diharapkan akan membongkar berbagai kontroversi yang terjadi di sepanjang kasus ini. Kita sama-sama sudah mengetahui bagaimana rekaman pembicaraan yang menghebohkan diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi. Kita juga mengetahui bagaimana masing-masing pihak ngotot mengenai kebenaran versi mereka, termasuk Polisi, Kejaksaan Agung dan KPK. Kita juga sama-sama tahu bagaimana peristiwa politik juga terjadi di Senayan, dimana anggota Komisi III DPR dituding tidak memihak masyarakat.

Kasus Bank Century

Persepsi publik tentang kasus Bank Century telah bercampur dengan isu politik Pemilu lalu, sehingga presiden terpancing untuk berkomentar bahwa tidak ada dana Bank Century yang mengalir ke tim pemenangan presiden.

Di sinilah pertanyaan publik merembet: mengapa presiden sangat cepat bereaksi terhadap isu itu, sementara dalam soal rekomendasi Tim 8 ia terkesan pasif?

Tampaknya Presiden semakin berada dalam posisi serba terdesak. Eskalasi kasus Century akan menyita 100 hari pertama kabinet. Ia berusaha mencari ‘jalan tengah’ yang memungkinkannya tidak membuat keputusan ‘berat sebelah’, tetapi tetap memenuhi kepentingan politiknya. Dalam kasus Tim 8, presiden baru memberi solusi pada poin rekomendasi yang paling moderat, yaitu poin Tim 8 yang mengusulkan pembentukan lembaga baru untuk menuntaskan reformasi hukum dan pemberantasan mafia peradilan.

Presiden mengalihkan usulan itu kepada UKP4, unit kerja presiden yang diketuai Kuntoro Mangkusubroto. Itu berarti tidak akan ada lembaga baru independen yang akan dibentuk untuk ‘membongkar mafia peradilan’ seperti yang direkomendasikan Tim 8.

Terhadap butir rekomendasi yang lebih mendesak, yaitu penghentian kasus Bibit dan Chandra dan penggantian pejabat-pejabat tinggi Polri dan Kejaksaan Agung, agaknya presiden masih berusaha mencari formula win-win solution. Sangat mungkin ia berharap bahwa para petinggi ‘yang dimaksud’ dapat mengundurkan diri dengan kesadaran sendiri, sehingga sebagai presiden ia terhindar dari kontroversi bila keputusan itu berasal darinya. Tipe kepemimpinan ini adalah khas presiden SBY, yaitu memperoleh hasil tanpa membuat keputusan kontroversi.

Atau, adakah skenario lain yang sedang dipikirkan presiden? Kita masih menunggu suatu keputusan presiden yang adil secara etis, dan bukan sekadar keadilan yang politis!

20 November 2009 Posted by | Nasional, News | , , , , , | Tinggalkan komentar

Super Anggodo (versi YouTube)

>> lihat video di YouTube >> lihat Republik Mimpi Buruk

Super Anggodo

INILAH>COM Jakarta – Memanasnya kasus Anggodo Widjojo membuat masyarakat meresponnya dengan makin kreatif. Salah satunya, dengan video pelesetan Anggodo di YouTube.

Video berdurasi satu menit lima detik itu diposting ke situs video YouTube, tertanggal 5 Oktober oleh seorang user bernama ‘underexposedbastard’. Isinya, penggalan-penggalan wawancara Anggodo dengan sebuah stasiun televisi yang baru-baru ini disiarkan.

Beberapa pertanyaan lucu disisipkan pada klip tersebut, yang dijawab oleh penggalan wawancara Anggodo. Misalnya pertanyaan ‘Anda tahu KPK itu apa?’. Jawaban adik Anggoro Widjojo itu, “Saya sama sekali nggak tahu  KPK apa.”

Selanjutnya, pertanyaan yang berupa tulisan itu masih agak serius. Seperti ‘Apakah hubungan Anda dengan Pak Susno sekedar bisnis atau…?’. Namun lama kelamaan, pertanyaan mulai tak ada hubungannya dengan kasus Anggodo dan KPK.

Seperti, ‘Anda tahu album Britney Spears yang terbaru?’, ‘Anda tahu dimana Krisdayanti bertemu selingkuhannya?’, lalu ‘Usia Anda berapa?’ yang dijawab Anggodo dengan, “Dua puluhan.” Lanjutan jawaban itu, “Katanya, bukan saya,” kata Anggodo.

Bahkan, ada pertanyaan ‘Anda tahu bedanya Mulan Jameela dan Mulan Kwok?’. Yang membuat plesetan ini kocak, adalah pertanyaan lucu yang dijawab dengan serius. Akhir kata, si user menulis, “Setelah ditahan kurang dari sehari, Anggodo Widjojo akhirnya dibebaskan. Terima kasih Pak Buaya,” yang diiringi suara tepukan tangan. [vin]

20 November 2009 Posted by | News, Video | , , , , | 1 Komentar

Sikap SBY Tentukan Keberlanjutan REFORMASI

gantung buaya

REKOMENDASI TIM 8: untuk apa tim dibentuk?

JAKARTA-MI: Kelayakan SBY sebagai presiden dipertanyakan jika tidak laksanakan rekomendasi Tim 8. Pelaksanaan rekomendasi merupakan bagian reformasi. Lambannya respon SBY dalam menanggapi rekomendasi Tim 8 berakibat terhadap kelayakannya selaku presiden.

Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko menyatakan bahwa kelayakan SBY bergantung pada komitmennya untuk menyikapi rekomendasi tim yang dibentuknya sendiri. “Kalau dalam level plintat-plintut masih oke. Tapi kalau dalam level tidak melaksanakan, menurut saya, apakah presiden masih layak, apakah masih perlu dirinya di Istana,” tegasnya dalam jumpa pers Koalisi Masyarakat Darurat Untuk Keadilan di Kantor ICW, Jakarta, Kamis (19/11). Ia mengkritik, SBY yang selalu menyatakan terpaksa dan tak ingin terburu-buru bukan alasan tepat. “Karena dari rekomendasi yang dihasilkan oleh Tim 8 tersebut sebagian besar anggotanya memiliki latar belakang hukum,” ungkapnya.

Danang mengingatkan, SBY harusnya konsisten dengan melaksanakan rekomendasi Tim 8. Kepercayaan publik terhadap SBY akan hilang jika SBY tidak meneruskan rekomendasi oleh Tim 8. “Kami tidak bisa menerima kalau SBY sebagai presiden menjilat ludahnya sendiri,” cetusnya.

Direktur Manajerial Imparsial Rudi Marpaung menambahkan penundaan bersikap oleh SBY merupakan langkah yang buruk. Karena dirinya menilai masalah KPK-Polri ini merupakan masalah darurat. “Saya melihat SBY merespon rekomendasi ini seperti tidak peduli. Justru saya mempertanyakan minat SBY menyelesaikan masalah ini,” ungkapnya. Sikap SBY dalam menanggapi rekomendasi ini menentukan langkah reformasi yang digulirkan semenjak 1998.

Koordinator Kontras, Usman Hamid, menyatakan amanat reformasi adalah menghentikan dan menindak pejabat yang korupsi. “Kalau tidak dilaksanakan maka selesai cita-cita reformasi,” ungkapnya.

20 November 2009 Posted by | Nasional, News | , , , , | 1 Komentar

PUNCAK GUNUNG ES

CicakKalah2

Cicak Kalah ? ...

Hery Winarno – detikNews

Jakarta – Tim 8 akan menyerahkan rekomendasi terkait kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah kepada Presiden SBY. Anggota Tim 8 Todung Mulya Lubis yakin SBY melihat hal itu hanya sebagai puncak gunung es.

“Saya yakin, Presiden juga melihat ini hanya sebagai puncak gunung es. Masih ada hal yang perlu diketahui. Markus misalnya, itu isu yang besar belum tersentuh selama ini,” kata Todung.

Hal ini disampaikan dia sebelum rapat Tim 8 di Gedung Wantimpres, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2009).

Hal kedua yang perlu diketahui, lanjut dia, masalah reformasi institusional lembaga penegak hukum mulai dari Kepolisian, Kejaksaan hingga ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Selain itu, bagaimana penyelesaian kasus-kasus korupsi dan penegakan hukum bisa dilakukan. “Seputar inilah yang kita laporkan kepada Presiden. Untuk detailnya, Anda harus menunggu besok,” ujar pengacara senior ini.

Ketika ditanya terkait dengan rekaman Lucas yang tersadap KPK, Todong menilai Tim 8 hampir mendapat seluruh data yang diperlukan. “Jadi untuk membuat kesimpulan kita sudah mampu,” cetus dia.

Tim 8 menggelar rapat pada pukul 13.00 WIB untuk finalisasi rekomendasi. Hanya anggota Tim 8 Hikmahanto Juwana yang belum hadir.

16 November 2009 Posted by | News | , , , , | 1 Komentar

GANYANG MAFIA !!

Ganyang Mafia Ganyang Kemunafikan

Di tengah suasana batin publik yang sedang tercabik-cabik oleh sepak terjang Anggodo Widjojo yang amat perkasa mengatur kepolisian dan kejaksaan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan program kerja seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu II.

Program penting itu menjadi tidak penting di mata publik yang sedang terperangah oleh kedahsyatan sepak terjang mafia peradilan yang diperankan seorang Anggodo. Padahal, salah satu target kerja 100 hari kabinet SBY adalah Ganyang Mafia. Ironis!!!

Sungguh ironis memang. Program Ganyang Mafia dilancarkan pada saat dua lembaga penegak hukum kepolisian dan kejaksaan digerayangi dengan amat leluasa oleh para mafia.Bahkan tidak cuma digerayang. Seorang bernama Anggodo kini diberi gelar baru ‘Super-Anggodo‘ oleh Effendi Ghazali, ahli komunikasi politik, ketika berorasi di Bundaran HI, kemarin, dalam pawai besar antikorupsi.

Mengapa Anggodo demikian super? Karena tidak ada kekuasaan di negeri ini yang mampu menjeratnya. Padahal, dia sampai detik ini di tangan dan dilindungi polisi. Ganyang Mafia, dengan demikian, tidak semata akselerasi perang terhadap korupsi, tetapi lebih dari itu, adalah pengakuan bahwa kita sesungguhnya kalah dalam perang melawan para bandit dan mafia korupsi itu sendiri. Anggodo adalah bukti yang amat telanjang.

Mengapa kalah? Kita mengakui dijajah mafia korupsi, tetapi pikiran dan konstruksi penegak hukum terpaku pada konstruksi prosedural. Adalah kekonyolan luar biasa bila seorang mafia mau meninggalkan bukti. Kalau bukti tercecer di mana-mana, bukan mafia namanya.
Adalah tugas mafia untuk bekerja rapi. Tugas mereka adalah berbohong. Tugas polisi adalah membongkar kebohongan.

Kita gagal memberantas korupsi karena–seperti yang sangat telanjang dipertontonkan dalam kasus Anggodo–aparat penegak hukum bersahabat dengan mafia. Mereka, para penegak hukum itu, dibiayai negara, tetapi mengabdi pada mafia.

Mafia, dengan demikian, bisa diberantas hanya bila ada keberanian untuk menggunakan kekerasan hukum yang dikomandoi nurani dan akal budi. Tidak dikerdilkan oleh rezim bukti dan prosedur.

10 November 2009 Posted by | Hot, News | , , , , | Tinggalkan komentar

Jangan lupa ada TIKUS.. dibalik BUAYA

 

tikus_dibalik_buaya

Tikus atau Buaya

Tikus Mempermainkan Buaya dan Cicak

Kutipan dari: Fuad Rumi

 

Alkisah, di sebuah negeri yang banyak tikusnya, cicak dan buaya terlibat perseteruan. Buaya menuduh cicak tidak tahu diri, melampaui kewenangannya sebagai cicak. Apalagi ulah cicak itu sudah mengusik kenyamanan buaya. Tak pelak, cicak lalu diuber-uber dan akhirnya ditangkap buaya. Memang cicak tidak langsung ditelan buaya, tapi masih disimpan dalam mulut. Seperti kalau buaya menyimpan anaknya sendiri di mulutnya ketika akan dibawa ke air.

Akhirnya negeri yang banyak tikusnya itu jadi gaduh. Banyak sekali yang bersimpati pada cicak. Nyamuk, burung, kambing, kerbau, kecoa dan banyak lagi lainnya yang mendukung cicak. Semuanya saling dukung-mendukung minta agar cicak dilepaskan, jangan sampai dimatikan oleh buaya. Negeri yang banyak tikusnya itu akhirnya tiap hari gaduh dengan berita buaya menangkap cicak. Desakan pendukung cicak semakin keras. Jumlahnya juga terus bertambah.

Satu tim disiapkan untuk menyelidikii duduk soal sebenarnya. Ketuanya burung kakaktua berjambul putih. Burung ini sangat terkenal kepandaiannya berkicau. Makanya dia cocok jadi ketua tim. Tim baru mulai bekerja keadaan sudah berubah drastis seketika, tatkala di pengadilan mahkamah margasatwa diperdengarkan rekaman hasil sadapan pembicaraan. Rupanya yang menjadi biang semua kisruh itu tidak lain adalah tikus.

Sebenarnya tikuslah yang tidak suka sama cicak karena dia menganggap cicak berbahaya baginya. Dia lalu bikin konspirasi yang membuat cicak ditangkap buaya. Tikus ternyata bukan hanya binatang penggerogot, tapi juga binatang licik yang lihai main “politik”. Untunglah niat jahat tikus kini ketahuan. Rekaman ulah busuknya sudah tersebar di seluruh khalayak. Tikus dan konco-konconya seharusnya ditangkap dan akan menerima hukuman berat akibat ulahnya sendiri. Tapi, di negeri yang banyak tikus, semua belum tentu juga. Bisa saja tikus tidak ditangkap, atau kalau ditangkap nanti dibiarkan lari.

Itulah sebuah kisah menggelikan tapi juga di negeri yang banyak tikusnya. Untung saja itu hanya terjadi di alam hewan, bukan negeri manusia. he.. he.. he. (*)

8 November 2009 Posted by | Hot, News | , , , | 1 Komentar

Buaya Mabok Duren

cicak

.

Buaya Mabok Duren

karya: Alvin Lie

Duren si raja buah
Harum aroma
Nikmat rasanya
Kebanggaan Indonesia

Duren kini lain lagi
Muncul di Mahkamah Konstitusi
Ini duren atau upeti
Bikin buaya lupa diri

Buaya mabok duren
Suara rakyat tak didengar
Buaya mabok duren
Tak jelas mana salah mana benar

Buaya mabok duren
Lukai rasa keadilan
Buaya mabok duren
Bikin rakyat naik pitam

Duren oh Duren
Buaya kok mabok duren

8 November 2009 Posted by | Hot, News | , , , | 2 Komentar

CEWEK CANTIK Melawan BUAYA

Ini dia MAQUIS SPANISH, cewek cantik pemberani yang melawan kesombongan si Evan Brimob yang bilang Polisi gak butuh rakyat, hingga akhirnya melaporkannya ke KOMPOLNAS. Evan Brimob yang tampil “tengil” di jejaringan facebook (FB), ternyata benar-benar seorang anggota Brimob. Bahkan akibat ulahnya itu, dia menjalani pemeriksaan di Polda Sumatera Selatan.

Informasi yang dihimpun detikcom, pemeriksaan terhadap personel Polri itu berakhir sekitar pukul 15.20 WIB, Kamis (5/11/2009).”Dia diperiksa apakah melakukan kesengajaan atau kelalaian membuat pernyataan yang menggemparkan itu,” kata Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Abdul Ghafur, yang dihubungi Kamis (05/11/2009).

Seperti yang kita ketahui, Evan Brimob, salah satu akun di facebook (FB), membuat gempar dengan statusnya yang sangat provokatif. Namun setelah banjir kecaman, Evan mengaku salah dan mohon maaf. Kekesalan dedemit maya terhadap Evan Brimob — pengguna Facebook kontroversial — ternyata belum padam meski ia telah minta maaf. Aksi balas dendam pun dikobarkan dengan cara khas. Evan sempat jadi bulan-bulanan di beberapa situs antara lain RSPP dan situsnya Kepolisian RI yang telah dihacking dengan menampilkan gambar Evan yang telah dipermak. Belakangan situs tersebut sudah diperbaiki oleh administratornya.

Permintaan maaf itu ditulis Evan Brimob dalam status terbarunya, Kamis (5/11/2009).
Saya mengaku salah dan minta maaf dan ralat pernyataan saya menjadi: Polri butuh masyarakat… masyarakat butuh Polri…. maju terus kepolisian Indonesia, bangkit Indonesiaku, lawan para koruptor dan perusak negeri ini” .

Status Evan Brimob sebelumnya adalah “Polri gak butuh masyarakat, tapi masyarakat yg butuh Polri. Maju terus kepolisian Indonesia, telan hidup2 cicak kecil..”.

– – – >> Kalo temen2 masih pengen ngelampiasin rasa kesel boleh maen GAME di sini lawan si Evan !!

8 November 2009 Posted by | Hot, News | , , , | Tinggalkan komentar