Malang 4 You

Just for Arek Arema Malang

2009: Tahunnya Penemuan Situs Arkeologi di Malang


Pada tahun 2009 ini tercatat banyak penemuan-penemuan situs kuno di kota Malang. Seingat penulis pada awal-awal 2009 ditemukan sebuah arca di Merjosari – Kota Malang, kemudian di Singosari ditemukan 2 lokasi situs kerajaan yang digali pada bulan Juli, dan yang terakhir penemuan situs “Kanjuruhan” di Dinoyo, serta arca yang diamankan dari kolektor.

ARCA PURBAKALA

Konservasi pada arca di Malang (2009)

Ditemukannya sebuah arca di Kelurahan Merjosari Kota Malang pada awal 2009 ini, seakan mengingatkan kembali, bahwa di Malang pada masa lampau berdiri banyak kerajaan, sehingga meninggalkan begitu banyak situs bersejarah. Apakah penemuan situs ini dapat mengungkap kenyataan, di Malang terdapat kerajaan tertua di Jawa Timur?

Penemuan arca tersebut merupakan satu dari ratusan situs peninggalan sejarah kerajaan di Malang. Selain para arkeolog yang secara khusus melakukan penelitian, masyarakat sekitar Merjosari sering menemukan situs-situs berbagai bentuk. Ada yang terbuat dari batu-bata, batu adesit, bahkan lempengan tembaga.

Penemuan sekaligus penginventarisiran situs purbakala di Malang, sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1902. Temuan cukup banyak, terutama di daerah Dinoyo, Watu Kenong (Gong), Desa Merjosari, Desa Tlogomas, dan Desa Karuman. Pada 1926 ditemukan prasasti Dinoyo. Prasasti yang kini disimpan di museum prasasti Jakarta ini ditemukan didua tempat terpisah. Prasasti ini menunjukkan tahun 760 M dan merupakan situs tertua di Jatim.

Prasasti yang tersimpan dengan nomor D 95 ini menunjukkan, bahwa cikal bakal berdirinya kerajaan besar di Jatim justru berasal dari Malang (kerajaan Kanjuruhan). Kerajaan ini kemudian berkembang hingga abad 10, muncul kerajaan Sindok, diikuti Airlangga (Kahuripan), Kediri, Jenggala, Singosari dan Majapahit.

Sedang Desa Merjosari memang merupakan situs yang penting sekali. Pada penelitian intensif yang dilakukan tahun 1972, masih ditemukan bekas bangunan berupa bata-bata kuno, yang sekarang terletak di sekitar Universitas Gajayana. ”Di belakangnya juga ditemukan bekas bangunan yang oleh masyarakat sekitar digunakan untuk umpak rumah,” ungkap Dr Drs HM Habib Mustopo, Ketua Asosiasi Epigrafi Indonesia. Batu-bata kuno itu juga ditemukan di daerah Karuman dan Watu Gong.

Di tempat ini juga ditemukan Patung Budha yang unik, karena berupa patung perunggu Budha Bergaya Amarawati (patung budha semacam itu sudah ada pada abad ke-2 M). Adanya patung perunggu di daerah pedalaman seperti Merjosari, sebenarnya sangat menarik untuk diteliti. Namun sayang sekali belum ada analisis yang tuntas mengenai hal tersebut.

Selain benda purbakala seperti Makara berbentuk kuda, Nandi, Yoni, dan lingga, nama-nama desa peninggalan kerajaan Kanjuruhan juga masih digunakan hingga sekarang. Contohnya, Desa Karuman. Di masa Singosari dan di dalam pararaton Majapahit disebutkan, bahwa di desa Karuman itu Ken Arok pernah bertemu dengan orang Karuman dan melakukan tindak kriminal. Sampai sekarang desa karuman masih ada, dan merupakan bagian dari Kelurahan Tlogomas. Masih ada pula nama desa, seperti Dau, Merjosari, Watu Kenong, Dinoyo, dan Kanjuruhan.

Arca Terunik

Begitu banyaknya situs purbakala yang ditemukan di Malang, namun sayangnya, baik Pemkot maupun Pemkab Malang tidak memiliki satu tempat yang representatif untuk menyimpan dan merawat benda-benda bernilai sejarag itu. Akibatnya, kini semua itu tercecer. Ada yang dibiarkan di tempat asalnya, ada yang ”dititipkan” pada warga masyarakat, ada pula yang raib entah ke mana.

Sebenarnya pencarian dan penginventarisiran situs purbakala di Malang telah dilakukan sejak tahun 1902. Sedikitnya sudah ada 8.315 benda purbakala yang terkumpul. Pada saat itu, Repporten van Oudheidkumdig Dienst (RVOD, Laporan Dinas Kepurbakalaan) menyebutkan, sejumlah benda purbakala beserta lokasi penyimpanannya. Di Kota Malang, misalnya, jumlahnya mencapai 255 arca, antara lain, 28 arca di halaman kantor asisten residen Malang, makam (bong) Cina sebanyak 226 arca dan di samping rumah sakit RSSA ada 4 arca.

Sementara lokasi penyimpanan terletak di tiga tempat, yakni halaman kantor asisten residen (sekarang kantor pos besar Malang), Museum Malang (yang kemudian menjadi Polwil Malang, sekarang berubah menjadi Hotel Trio), serta halaman sebelah kiri kantor Pemda Kabupaten Malang. Namun kemudian satu persatu mulai tercecer.

Sejak akhir tahun 1978 sampai awal 1982, Joko Riadi BA yang saat itu menjabat Kasi Kebudayaan berusaha menghimpun kembali benda purbakala di Kota Madya Malang. Yang kemudian ditempatkan di kantor Dinas Kebakaran (Blangwier). ‘’Joko minta anggaran kepada DPRD untuk membuat tempat untuk sekadar melindungi dari sinar matahari dan hujan. Tetapi hanya sekadar satu tempat yang tidak bisa disebut persyaratan sebagai museum. Meski begitu, ini sudah merupakan satu upaya untuk mengumpulkan kembali benda purbakala yang sudah terserak,’’ papar Dr Drs HM Habib Mustopo, dosen Arkeologi Universitas Negeri Malang.

Penemuan oleh masyarakat sendiri juga kerap terjadi. Seperti bekas bangunan berupa batu-bata kuno di Kelurahan Merjosari. Oleh warga, batu-bata itu mereka manfaatkan untuk membangun rumah mereka. Sementara lokasi situs, saat ini banyak didirikan perumahan untuk pemukiman. ‘’Ketika orang mendirikan perumahan sekitar Candi Badut pada masa bupati Abdul Hamid, saya protes dan ternyata didengarkan. Lalu didatangkan pusat arkelogi dari Jakarta untuk melihat. Yang akhirnya diberi batas daerah konservasi sekitar 200 meter di sekitar candi. Lumayanlah daripada tidak. Padahal, dulu di situ ada bekas vihara yang digunakan menginap oleh kaum pedanda,’’ ujar Ketua Asosiasi Efigrapi Indonesia itu menyayangkan.

Namun, makna penting benda purbakala itu kerap tertutupi oleh kepentingan akan keuntungan materi belaka. Sehingga, perundang-undangan pun ikut diputar balik.

Saat menyebut UU 59/92, orang hanya menyebutnya sebagai undang-undang Cagar Budaya saja. Namun tak pernah menyentuh lebih detail, yaitu PP 10/93 yang menjelaskan tentang konservasi, maupun jenis benda budaya. ‘’Akibatnya, ketika para pekerja menemukan benda-benda purbakala pada saat membangun perumahan Unibraw, benda-benda itu selalu dipendam kembali. Sebab bila ketahuan, mereka khawatir pembangunannya akan distop untuk dilakukan satu penelitian,’’ keluh Penemu Usia Kabupaten Malang ini.

Namun dari semua itu, yang paling disayangkan adalah hilangnya sebuah patung yang sangat berharga, karena tidak ada duanya di dunia. Patung itu disebut ”Khadgakbetadharini”, ditemukan di Dinoyo, sekitar tahun 1904. RVOD halaman 147 menyebutkan, penemuan patung wanita bertangan dua dengan gaya Jawa tengahan, bentuk lain dari dewa Parwati istri dewa Siva. Patung ini pernah di teliti oleh De haan, yakni 2,5 tahun setelah ditemukannya prasasti Dinoyo.

Menurut Habib, patung ini sangat berharga karena gaya pembuatannya sangat lokal Jawa (justru Jawa Timuran) dan berbeda sekali dengan gaya patung India, contohnya di candi Songgoriti yang bergaya India -Jawa Tengahan. ‘’Pada tahun 1959 pernah saya pinjam dari Pakri (kepolisian) untuk pameran, karena waktu itu patung ini hanya dipakai untuk pengganjal pintu. Kemudian saya kembalikan lagi tetapi sekarang raib. Ini Wanted, sebab jarang bahkan tidak ada dan tidak ditemukan pula di musium. Jadi hanya satu-satunya. Barang siapa yang menemukan, ini sangat berharga sekali. Barang kali ada dikalangan pejabat kepolisian karena itu dulu ada di Pakri,’’ ujarnya menyayangkan.

Sementara rencana Pemkot Malang untuk menyediakan semacam musium sebenarnya merupakan kebutuhan yang sudah sangat mendesak untuk direalisasi. Pasalnya, dari 8.315 benda yang pernah terinventarisasi pada tahun 1902, sekarang jumlahnya yang terlihat tidak sampai 10 persennya. Itupun sebagian ada di musium seperti Trowulan (Mojokerto) dan Prasasti (Jakarta). Lalu sisanya?, mungkin hancur oleh alam. Tetapi tak sedikit yang ‘diamankan’ oleh masyarakat. Seperti benda purbakala yang tersimpan di Hotel Tugu Malang, RM Cahyaningrat dan Hotel Trio. ‘’Kalau tempat representatifnya sudah ada, semua benda purbakala itu akan kami tarik. Mereka dianggap meminjam, dan ada BAP,” kata Kahumas Drs H Supriyadi.

Namun apakah semudah itu? Dihadapan tim Perlindungan benda Purbakala Jatim dan Kota Malang yang melakukan peninjauan arca, managemen hotel Trio bersikukuh menyatakan akan mempertahankan arca Anusapati dengan cara apapun, karena sudah dianggap maskot hotel.

*Dari berbagai sumber khususnya dari Sinar Harapan

2 November 2009 - Posted by | Malang Kota, Sejarah | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: