Malang 4 You

Just for Arek Arema Malang

MLM dan AREMA

MLM / Multi Level Marketing
Siapa yang Beruntung, Siapa yang Rugi?

Istilah MLM (Multi Level Marketing) mulai akrab di telinga kita, sejak tahun 80an ketika nama-nama seperti Amway, CNI, masuk ke Indonesia. Cara-cara pemasaran ini dibawa dari luar negeri, seolah produk pemasaran modern yang sudah saatnya masuk dan ikut berkembang memajukan dunia pemasaran di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan ini menjanjikan “peluang” bisnis yang menguntungkan, dengan cara-cara pemasaran yang “baru”, kreatif, inovatif, dengan produk-produk “spesial”. Jajaran anggotanya dilabeli dengan medali diamond, permata, bintang serta iming-iming kemewahan, bonus-bonus spesial, liburan ke luar negeri, semua itu lebih dari cukup bahkan terasa berlebihan bagi kebanyakan calon anggotanya. Berlebihan disini karena umumnya kita masih bergelut dengan kebutuhan hidup sehari-hari, tidak bisa membayangkan nikmatnya iming-iming tersebut, merasa cukup jika menjadi anggota MLM dan kebutuhan bulanan bisa dipenuhi.


Sejak awal, kita dijejali dengan peluang meraih keuntungan yang terus berlipat ganda, dengan syarat-syarat memenuhi keanggotaan dalam jaringan, yang seolah tiada batasnya. Kita disuntik “motivasi” dalam pertemuan-pertemuan. Teknik-teknik motivasi, kepribadian modern harus terus kita konsumsi – yang sering harus membayarnya – secara teratur. Hal-hal baru di atas terus menghujani kita, hingga pikiran kritis kita lupakan.

Mungkin inilah proses informal hypnosissecara alamiah, ketika “conscious mind “ kita dialihkan perhatiannya dan “pesan-pesan” mulai masuk ke “pusat motivasi” kita. Ini bisa dilihat dari banyaknya waktu yang kita curahkan tiap harinya untuk bisnis MLM ini, yang merenggut kebebasan waktu kita, serta dari antusiasme kita yang kadang terasa ganjil bagi orang lain. Banyak anggota-anggota MLM ini dengan sukarela me”recharge” diri sendiri, ketika merasa semangatnya untuk bekerja menurun. Banyak anggotanya yang secara sukarela menumpuk “stock” produk, atau diam-diam memberi diskon untuk produk maupun harga keanggotaan. Semua ini demi impian untuk segera melihat berkembangnya jaringan yang mereka bangun.

Penulis bukanlah ahli ekonomi atau anggota sukses dari satu MLM, namun pernah coba-coba ikut MLM, dan coba berbagi pengalaman/renungan.
Ditengah-tengah konsumen yang tidak terlindungi dengan baik oleh peraturan-peraturan di negeri ini, haruskah menunggu korban untuk menjadi kritis? Dengan tulisan ini marilah kita buka pikiran kritis kita, ditengah gelombang informasi dari berbagai media yang terus memasuki benak kita, sementara “image-image” itu begitu mudahnya masuk ke otak kita. Marilah kita cari tahu sebenarnya macam apakah pemasaran yang merugikan kita, seperti apa pemasaran berantai, pemasaran skema piramid, pemasaran tanpa produk riil, pemasaran yang mengutamakan jaringan anggota daripada memasarkan produk, pemasaran manakah yang dilarang, dan banyak pertanyaan-pertanyaan tentang pemasaran dengan bentuk yang mirip ini.

Dan termasuk pemasaran jenis apakah MLM yang kita ikuti, adakah yang disembunyikan tentang pemasaran MLM ini?

Terakhir, pernahkah kita tahu angka statistik tentang pemasaran MLM ini, misalnya berapa jumlah anggota yang mendaftar, berapa anggota yang aktif, berapa anggota mencapai penghasilan tertentu, berapa persen jumlah anggota yang mendaftar “berhasil” untuk tidak berhenti, dan seterusnya? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang terus mengikutinya. Kenapa, angka-angka ini – yang tentunya menarik – tidak pernah ditunjukkan. Jika pemasaran ini berhasil mengangkat anggotanya, tentunya contoh-contoh angka ini, sangat menarik minat “prospek“.

Jika tulisan ini mendapat tanggapan, tentunya akan kita bahas lagi secara mendalam sekitar MLM Ini. Sampai ketemu lagi.

20 Juni 2009 Posted by | MLM dan Bisnis | , , | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.