Malang 4 You

Just for Arek Arema Malang

TOPENG MALANGAN: Aset Budaya Arek Malang


Mbah Karimun dan topeng Panji

MALANG-RAYA. Aset budaya tradisional Malang Raya berupa topeng malangan terancam musnah tergerus zaman. Pasalnya, topeng yang juga menjadi ikon Malang Raya itu kini tak lagi dikenal warga.

“Ironisnya, ini terjadi justru saat banyak pecinta seni dari berbagai negara berusaha mendalami sekaligus melestarikannya,” kata pengamat seni topeng malangan, Dwi Cahyono, kemarin. Sekarang ini, kata Dwi, pemahat topeng malangan sudah berkurang banyak. Sedangkan muda hanya segelintir yang tertarik melestarikannya. Bila hal terus ini berlanjut, Dwi khawatir topeng tersebut nanti justru menjadi milik negara lain.

Untuk melestarikan kekayaan budaya tersebut, Dwi terus berupa mengoleksinya, terutama topeng yang bisa ‘bercerita’ tentang sejarah seperti legenda Panji Asmorobangun karya maestro topeng malangan, Mbah Karimun. Ia saat ini memiliki 62 topeng malangan yang dipajang tepat di pintu masuk resto tradisional miliknya dan topeng malangan itu mengisahkan cerita Panji Asmorobangun dengan tokoh Dewi Sekartaji, Dewi Kilisuci, Bapang dan Panji Asmorobangun sendiri.

Menurut dia, masyarakat Malang sendiri tidak banyak yang tahu atau paham dengan cerita Panji Asmorobangun, padahal cerita ini sudah dikenal hingga Jerman bahkan ada pengamat dari Vietnam, Linda Keifin, yang sangat paham cerita panji secara detail.

Tari Topeng Malangan

Untuk melestarikan topeng malangan agar tidak sampai punah, katanya, dirinya bersama pecinta seni lainnya bakal menggelar workshop dua minggu sekali tentang bagaimana cara membuat topeng malangan. “Semua pengunjung termasuk wisatawan asing bebas melihat dan belajar bagaimana cara membuat topeng malangan yang dipandu oleh para pemahat khusus secara bergantian,” katanya.

Sementara salah seorang perajin tradisional topeng malangan yang berlokasi di Desa Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang, Jumadi, mengaku, para perajin topeng malangan tersebut masih minim perhatian terutama dari pemerintah setempat baik dalam bentuk permodalan maupun promosi.

Untuk mengembangkan dan tetap melestarikan salah satu ‘aset’ daerah yang masih dikerjakan secara tradisional tersebut, katanya, banyak mengalami kendala apalagi jika tidak ada campur tangan dari pemerintah. “Semakin hari kondisi pengrajin topeng malangan ini semakin terpuruk, berbeda dengan beberapa tahun silam yang masih ada perhatian dari PT Rajawali bahkan sampai dibangunkan padepokan,” katanya.

Menurut dia, prosentase penjualan topeng malangan saat ini juga jauh menurun dibanding beberapa tahun silam, sebab untuk mengadakan even-even juga tidak semudah sebelumnya. Saat ini, katanya, pihak hotel atau tempat-tempat pameran lainnya, manajemennya sudah berubah, kalau dulu memakai sistem bagi hasil, tetapi sekarang menggunakan sistem sewa, padahal topeng-topeng yang dipamerkan belum tentu terjual.

Ia juga mengakui, para pengrajin topeng malangan saat ini juga sudah berubah haluan, kalau sebelumnya masih merupakan “pekerjaan” sampingan, tetapi sekarang menjadi mata pencaharian dan celakanya omzet penjualan tidak seramai beberapa tahun silam bahkan beberapa hotel yang rajin memesan souvenir juga berkurang jauh.

“Yang kami butuhkan saat ini pemerintah bisa membantu dalam penyelenggaraan even pameran yang dipadu dengan ‘demo’ proses pembuatan topeng, sehingga masyarakat mengenal budaya khasnya,” tegasnya. Sebab, kata Jumadi, dari tahun ke tahun budaya khas ini semakin ditinggalkan dan kalau ada pihak asing yang melestarikan dan mengklaim hak patennya, pemerintah baru ‘kelabakan’.

Proses pembuatan topeng malangan antara 5 hari sampai 3 minggu, tergantung karakter topeng yang akan dibuat. Topeng-topeng khas tersebut seharga Rp100 ribu sampai Rp1 juta, khusus soevenir gantungan kunci dan topeng berukuran mini seharga Rp5000 sampai Rp30 ribu perbuah.

About these ads

22 November 2009 - Posted by | Info, Malang Raya, Seni dan Budaya | , , , , , ,

8 Komentar »

  1. Malang? I love this city..saya bukanlah orang malang, tapi saya pernah tinggal di kota ini ( walaupun tdk lama ). Suasana kotanya yang sejuk, nyaman dan juga romantis ( menurut saya lho!) membuat saya ingin selalu kembali ke kota ini…

    Komentar oleh Baihaqi | 22 November 2009 | Balas

    • Betul,.. saya sendiri ada di Kupang NTT. Dulu pernah tinggal di Malang.

      Komentar oleh 4you | 22 November 2009 | Balas

  2. Mbah Karimun, tokoh, penari topeng malangan khas Malang… saya pernah bermain-main dan sempat mewawancarai beliau, saat beliau masih sehat, sambil belajar menari pada beliau, dan sedikit memborong miniatur topeng malangan hasil keprigelan tangan beliau…

    Komentar oleh manning | 2 Desember 2009 | Balas

  3. makasih artikelnya bagus, cak. ijin ngopy..ya

    Komentar oleh Arief wahyudi | 10 Desember 2009 | Balas

    • ya

      Komentar oleh alif | 21 Oktober 2012 | Balas

  4. tokoh-tokoh biar bisa bedain protagonis,

    Komentar oleh verachi | 1 Agustus 2010 | Balas

  5. Mas kalo boleh tanya harga topeng klono sewandono itu sampai berapa ya?

    Komentar oleh austyntitus@yahoo.com | 18 Juli 2012 | Balas

  6. assalamualaikum.. saya citra siswa smk 11 surabaya(sekolah menengah seni rupa) surabaya. saya tertarik sekali dengan topeng malangan ini. kalau mau info lebih detail.. dimana?trimakasih.. karena saya ingin mengangkat topeng wayangan ini untuk perancanaan festifal budaya :)

    Komentar oleh citra | 17 Februari 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: